Wisata Arsitektural Gereja Katolik Inkulturasi St Mikael Pangururan

Gereja Katolik St Mikael yang terletak di Pangururan, Kabupaten Samosir adalah salah satu gereja Katolik yang bertitik tolak dari semangat inkulturasi Batak Toba. Gereja Paroki ini posisinya tepat berada di pesisir Danau Toba ini. Ia berhadap-hadapan dengan danau dan juga pebukitan.

Posisi gedung gereja ini seolah mengingatkan kita akan kuasa Tuhan lewat keindahan alam yang diciptakannya. Pantaslah Gereja Katolik ini menjadi kebanggaan masyarakat, tidak hanya umat Katolik tetapi juga Batak Toba pada umumnya.

Sepintas gereja ini lebih mirip dengan rumah adat Batak Toba. Bangunannya berbentuk solu (perahu) yang merupakan ciri khas rumah adat Batak Toba. Namun bila kita masuk ke dalamnya akan terlihat ornamenornamen gereja yang menghiasinya.

Arsitektural gereja ini mengadopsi arsitektur vernakular tradisional Batak Toba, dengan ruang dalamnya berbentuk empat persegi panjang. Pada bidang-bidang vertikal elemen-elemen interior, khususnya pada ditampilkan berbagai ornamen hias khas Batak Toba. Antara lain pada dinding, tangga altar, beberapa perabot, profil dinding dan sebagainya.

Selain secara fisik, inkulturasi itu juga terdapat pada nilai-nilai budaya yang diadopsi ke dalam arsitekturalnya. Ruangan gereja ini hadir tanpa sekat dengan plafon tinggi yang langsung menyatu dengan atap bangunan. Persis dengan rumah Adat Batak, gereja ini juga memiliki balkon pada bagian depan. Dalam adat Batak Toba, balkon ini biasanya digunakan untuk tempat para pargoncci (pemusik gondang sabangunan) ketika pesta adat berlangsung.

Dr Togar Nainggolan yang kala itu menjabat sebagai pastor paroki di gereja itu, menjelaskan konsep arsitektur gereja ini tidak hanya mengadopsi fisik rumah adat Batak Toba, namun juga nilai-nilai budaya di dalamnya. Karenanya konsep dasar bangunan juga mengacu kepada prinsip kosmologis dalam budaya Batak Toba. Yakni pengakuan terhadap tiga tingkat kehidupan, masing-masing banua toru, banua tonga dan banua ginjang.

Pastor Togar yang juga seorang antropolog Batak Toba menjelaskan, banyak hal tentang gereja dan budaya Batak Toba yang di antaranya ia tuliskan dalam bentuk buku berjudul, “Karakter Batak: Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan.”

Dijelaskannya, karena mengacu kepada 3 tingkat kehidupan dalam kosmologis Batak Toba itulah, maka gereja ini dibagi atas tiga tingkat. Antara lain ruang bawah. Ruang semacam basement ini kini dimanfaatkan sebagai museum.

Berbagai benda-benda kuno masyarakat Batak Toba tersimpan dengan rapi di gereja ini. Termasuk pula sebuah perpustakaan yang mengoleksi sejumlah buku-buku lama.

Pada ruang bagian tengah gereja adalah tempat ibadah. Sedangkan pada bagian atas terdapat sebuah ruangan besar. Ruangan ini sepertinya sengaja dibiarkan kosong. Mungkin juga berfungsi sebagai pendingin alami gereja.

Kaya Ornamen

Pesona gereja ini tidak lepas dari ornamen-ornamen yang menghiasi hampir keseluruhan fisik bangunan. Ornamen itu secara garis besar dibagi atas dua bagian.

Pertama yang berlandaskan kekristenan. Ornamen jenis ini cenderung berupa gambar-gambar yang simbol visualnya bisa kita temukan di Alkitab. Bentuknya jelas. Misalnya gambar perempuan dengan sebuah pohon dan ular. Gambar ini merupakan manifestasi dari tragedi Hawa jatuh ke dalam dosa. Begitu juga dengan ornament berupa bejana dan lilin yang merupakan simbol sakramen baptis dalam gereja Katolik.

Jenis ornamen yang kedua adalah yang bercita rasa budaya Batak Toba itu sendiri. Ornamen-ornamen itu berupa ragam hias, ukir dan seni pahat seperti dalam rumah adat Batak Toba. Bentuknya lebih abstrak dan ada fungsinya sekedar ragam hias. Onamen-ornamen itu, antara patung ulu paung yang dalam budaya Batak Toba merupakan simbol kekuatan dari ancaman roh jahat.

Begitu pula dengan ukiran boraspati yang fisiknya mirip cicak. Ia adalah lambang kemakmuran dalam adat Batak Toba. Begitu juga dengan ornamen-ornamen yang diukir mendetail. Ada kalanya menyiratkan simbol-simbol tertentu, tetapi adapula yang sekadar bernilai estetis. Boleh dikatakan ornamen-ornamen inilah yang melengkapi daya tarik gereja yang telah berusia 76 tahun ini.

Belum lagi posisinya yang langsung berhadapan dengan pesisir Danau Toba. Keduanya seolah saling melengkapi pesona masing-masing. Bila pagi maupun senja tiba, view di sekitar gereja akan lebih terasa lagi. Angin danau yang berhembus sepoi-sepoi akan membuat kita terenyuh.

Apalagi di halaman depan gereja yang luas ada sebuah sopo (tempat bersantai), seolah memanggil kita untuk merebahkan tubuh. Pemandangan itu akan semakin kompleks manakala di pagi hari kita dapat menyaksikan langsung anak-anak sekolah diangkut naik kapal menuju sekolah mereka di seberang danau.

Semuanya itu seolah mengajak kita untuk merenungkan arti kehidupan dan semakin mendekatkan diri kepada Pemilik Kehidupan itu sendiri.

Sumber Tulisan : http://www.medanbisnisdaily.com/

2 months ago