Open Lecture ITS Surabaya: Setarakah Kompetensi Antarsitek?

yulikalson

Melanjutkan acara Architects Gathering Surabaya, pada Senin, 21 April 2014 lalu tim Roadshow ARCHINESIA #4 menyapa teman-teman mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Selain diskusi mengenai ASEAN MRA on Architectural Services, teman-teman mahasiswa pun mendapat inspirasi berharga dari presentasi Yuli Kalson Sagala, arsitek muda yang kaya pengalaman berpraktik baik di dalam maupun luar negeri. Saat ini, ia mendirikan biro arsiteknya sendiri, KsAD, setelah sebelumnya sempat bekerja di DP Architect Singapore dan beberapa perusahaan besar lain.

 

Menurut Kalson, panggilan akrabnya, isu ASEAN MRA on Architectural Services seharusnya akan memacu arsitek Indonesia untuk memiliki keahlian khusus.

“Karena nantinya kita semua sama, kita harus mempunyai keahlian khusus agar bisa muncul dan dilihat oleh negara lain. Kita harus mempertahankan lokalitas kita. Kalau kita pesimis, Indonesia bisa hilang,” tandasnya.

 

Selanjutnya jika berbicara soal kesetaraan, Sekretaris Jurusan Arsitektur ITS, Defry Agatha Ardianta, berpendapat bahwa kesetaraan harus dicapai baik secara kompetensi maupun regulasi. Namun hal yang perlu dicermati terlebih dahulu adalah kemampuan yang dimiliki masing-masing arsitek dari setiap negara yang berbeda-beda tersebut.

Ia juga menyampaikan perspektif berbeda mengenai wacana penyetaraan pendidikan arsitektur Indonesia. Ia berpendapat, permasalahan mendasar bukan pada ‘menambal’ kekurangan waktu pendidikan arsitektur Indonesia, melainkan pada kemampuan dan pemahaman yang dimiliki setiap individu selama menempuh pendidikan reguler selama empat tahun dan satu tahun pendidikan profesinya.

“Yang paling mendasar adalah memperbaiki kompetensi dan kemampuan anak-anak ini untuk dipersiapkan ketika dia nanti berpraktik.” (san)

sumber : https://www.facebook.com/imajimediapustaka

6 years ago