Merawat Hutan Bambu, Memanen Beragam Manfaat

Eko Rusdianto [Maros] di 24 August 2018

Struktur bambu ini jadi bangunan begitu kokoh. Di Desa Tanete, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ada tempat bernama Bandara Bambu. Atapnya mengingatkan pada desain bangunan Bandara Sultan Hasanuddin.

Bandara Bambu, sejatinya adalah aula pertemuan. Luas 12×15 meter. Inisiasinya muncul dari program pengembangan dan penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Perumahan Wilayah III Makassar, memilih kembangkan bambu. Pemegang program menggandeng Arsitek Komunitas, lembaga non profit untuk bertukar ide di Makassar.

Warga Desa Tanate menyambut baik. Semua bekerja bersama dan saling membantu. Desain dan ilustrasi gambar dengan cekatan, 1.000 batang bambu Apus dikumpulkan. Material dari kebun-kebun warga.

Oktober 2017, pembagunan bermula. Empat bulan kemudian pada Januari 2018, bangunan itu berdiri kokoh. Semua orang berangkul dan penuh semangat. “Akhirnya, bangunan ini jadi kebanggaan. Tempat belajar semua warga desa,” kata Aman Wijaya, pendamping dari Arsitek Komunitas.

Dalam aula itu ada beberapa mesin, pengawetan bambu, perekat, hingga pengering. Mesin-mesin ini, katanya, jadi milik warga. “Kami berharap kelak tempat ini jadi workshop bambu di Sulsel,” katanya.

Aula serba guna atau Bandara Bambu, menggunakan struktur bambu – di Desa Tanete, Kecamatan Simbang, Maros . Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia
Aula serba guna atau Bandara Bambu, menggunakan struktur bambu – di Desa Tanete, Kecamatan Simbang, Maros . Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia

Yunus dari Arsitek Komunitas juga memamerkan sebuah produk bambu hasil pelatihan, seperti papan, dengan material sangat kuat. “Ini sudah diawetkan dengan bahan khusus. Rayap lihat ini akan malu.”

Dengan bambu sebagai struktur bangunan tidaklah begitu populer. Di Sulsel, bambu biasa untuk bangunan sementara. Pagar kebun dan rumah, kandang binatang atau rumah kebun.

Di beberapa tempat, saya menemukan bambu anyam sebagai dinding dan plafon. Meski struktur utama tetap pakai kayu atau beton. Secara kelenturan, bambu merupakan material sangat kuat, bahkan tahan gempa.

Pada bangunan Bandara Bambu di Tanate, beberapa struktur melengkung. Pasak untuk menghubungkan struktur dengan baut ukuran 12 mm. Penggunaan baut itu, terlebih dahulu dibor agar bambu tak pecah.

Sebelum pakai bambu sebagai rangka struktur utama, masyarakat mengawetkan dengan bahan kimia gunakan teknik kompresor. Nama bahan kimia, borax borix. Bahan ini, cair lalu masuk ke tabung. “Cairan itu masuk di antara serat bambu, baru dikeringkan,” kata Muhammad Cora, arsitek utama pembangunan Rumah Bandara.

Dia berharap, masyarakat gunakan bambu tak hanya buat hal sepele. “Bambu yang melimpah di sekitar bisa menghindarkan warga dari ketergantungan pabrik lebih mahal,” katanya.

Pengawetan bambu alami, katanya, juga bisa dilakukan. Bambu dipilih, kemudian rendam selama seminggu pada saluran air mengalir. Tujuannya sama, perendaman dan pengawetan lewat bahan kimia untuk mengurangi kadar gula (glukosa) dalam bambu, yang menjadi penarik serangga dan rayap.

Bagi Cora, Bandara Bambu dengan sistem konstruksi dan material dari bahan pilihan, akan bertahan hingga 30 tahun. Untuk perawatan, jauh lebih mudah. Praktis tiga bulan sekali hanya meneliti sambungan baut, untuk memastikan mur tetap tertanam baik, tidak longgar. ”Membersihkan sarang laba-laba. Jika menemukan lubang kecil akibat semut, ditutup gunakan semen.”

Hutan Bambu warga desa Tanete, Kecamatan Simbang, Maros. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia
Hutan Bambu warga desa Tanete, Kecamatan Simbang, Maros. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia

Merawat hutan bambu

Agustus lalu, saya menyambangi Desa Tanete. Udara sejuk. Desir angin yang menggoyangkan daun sungguh melenakan. Gesekan batang-batang bambu juga mengeluarkan suara khas. Daun-daun yang kering melayang jatuh.

Di wilayah ini, bambu tumbuh d depan, samping, hingga belakang rumah. Bambu adalah tanaman utama warga, selain bertani. Hamparan-hamparan bambu ini seperti tak terputus hingga mencapai puluhan kilometer.

Hutan bambu, yang bersisihan dengan lahan persawahan sekaligus jadi penyuplai dan penjaga air. Sebagian besar warga juga gunakan sumur tanah dengan kualitas air sangat jernih. “Akar bambu, menyimpan banyak air. Ini yang membuat bambu jadi tanaman konservasi sangat baik,” kata Walid.

Walid adalah peneliti bambu di Maros. Dia meneliti mengenai potensi biomassa, karbon tersimpan dan serapan karbon untuk bambu tutul tahun 2012. Dari hasil inventarisasi, dari total 5.620 batang bambu per hektar, biomassa ada 72,39 ton. Atau rerata setiap batang bambu menyimpan biomassa 12,88 kg. Untuk total cadangan karbon (C) mencapai 35,44-106,18 ton per hektar.

Meski demikian, cadangan karbon untuk hutan tropis Asia dengan beragam tanaman mencapai 40-250 ton per hektar. Untuk itu, Walid memaksimalkan hutan rakyat bambu, sebagai penyimpan karbon, harus dilakukan selingan tanaman kayu cepat tumbuh. “Jadi karbon akan terserap di biomassa setiap pohon,” katanya.

Mengapa bambu jadi salah satu alternatif? Dia bilang, tanaman ini secara ekonomi sangat baik. Masa panen, tiga sampai empat tahun sekali. “Bambu yang tak rajin diremajakan dalam jangka waktu tertentu, akan mempengaruhi perkembangan bambu lain.”

Keterangan foto utama:Yunus, anggota Arsitek Komunitas memperlihatkan produk bambu hasil warkshop Bandara Bambu. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia.

Bambu, juga bisa untuk rangka bangunan, selain tanaman konservasi dan sumber energi biomassa. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia
Bambu, juga bisa untuk rangka bangunan, selain tanaman konservasi dan sumber energi biomassa. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia

Sumber Tulisan : https://www.mongabay.co.id

5 months ago