Menyusun Strategi Marketing untuk Biro Arsitektur ala Putu Edy Semara (ESA International)

Marketing, dalam proses memulai biro arsitektur, sering kali tidak menjadi prioritas. Padahal, strategi marketing menentukan bagaimana biro arsitektur tersebut dapat terus bertahan dan terus mendapat penghasilan. Karena kurangnya pengetahuan tentang marketing, banyak arsitek baru mulai belajar marketing secara otodidak dalam perjalanannya berpraktik.

Putu Edy Semara, arsitek prinsipal ESA International, belajar mengenai marketing sambil merintis karirnya berarsitektur. Dalam acara ARCHINESIA Academy di Bali pada tahun 2016 lalu, beliau sempat membagikan beberapa strategi marketing. Menurut beliau, marketing merupakan proses memperkenalkan diri seorang arsitek kepada publik dalam bentuk edukasi kepada pasar. Dengan memberi pemahaman mengenai pentingnya peran arsitek dalam proyek, arsitek dapat lebih mudah menjual jasanya kepada calon klien potensial. Apa saja strategi marketing-nya?

1. Bentuklah citra diri Anda dengan tepat

Sangat penting bagi arsitek untuk dapat membawa diri dengan baik di hadapan klien. Bagaimana klien menilai suatu biro arsitektur ditentukan dari impresi yang ditangkap oleh klien sejak pertemuan pertama. Presentasikan diri Anda sesuai dengan siapa klien yang Anda temui. Arsitek harus mengenal kapan perlu bersikap formal dan kapan perlu melakukan pendekatan yang lebih kasual dengan klien yang baru ditemui.

Selain pembawaan diri yang sesuai, seorang arsitek perlu menjadi representasi dari biro di mana ia bekerja. Baik berperan sebagai prinsipal maupun sebagai junior architect, seorang arsitek perlu menyesuaikan diri dengan karakter yang dimiliki oleh biro arsitektur ketika arsitek tersebut menemui klien.

2. Pastikan diri Anda memiliki nilai jual

Seorang arsitek sebaiknya mengenali kekuatan dan kelemahannya, serta dapat menampilkan kekuatannya ketika berkomunikasi dengan klien. Menunjukkan kelebihan Anda perlu dilakukan dengan hati-hati dan tidak berlebihan. Anda dapat mengkomunikasikan kemampuan Anda dalam merancang melalui portofolio karya yang sudah terbangun, karya yang dibuat untuk sayembara, maupun karya yang masuk dalam publikasi.

Mempromosikan diri melalui keikutsertaan dalam sayembara dan publikasi arsitektur merupakan cara populer yang digunakan biro-biro arsitektur terkemuka. Menampilkan potensi yang dimiliki lewat media-media tersebut membuka peluang bagi seorang arsitek untuk mendapat kepercayaan dari klien yang belum mengenal arsitek tersebut sebelumnya. Dengan mengedukasi klien mengenai kemampuan seorang arsitek, arsitek akan memiliki bargaining position yang lebih kuat dalam negosiasi proyek selanjutnya.

3. Jalinlah hubungan dengan klien, bahkan sebelum mereka menjadi klien

Banyak biro arsitek yang mendapatkan proyek-proyek pertama dari relasi yang sebelumnya sudah dijalin oleh arsitek sejak sebelum ia membangun biro arsitekturnya sendiri. Perluas jaringan pergaulan Anda, karena pergaulan yang luas akan membuka peluang kerja sama. Sebaiknya relasi dengan orang baru tidak hanya dijalin ketika seorang arsitek mencari proyek saja. Ketika seorang klien sudah mengenal seorang arsitek secara personal sebelum melakukan kerja sama, arsitek tersebut dapat lebih mudah memperoleh kepercayaan klien tersebut.

Hal lain yang harus diingat ketika menjalin hubungan dengan orang lain adalah untuk memperluas pengetahuannya di luar bidang arsitektur. Mudah bagi seorang arsitek untuk membahas topik arsitektur terus menerus, namun lawan bicara Anda tentu memiliki ketertarikan terhadap topik lain juga. Pelajari minat lawan bicara Anda. Klien Anda juga memiliki pengetahuan yang berbeda yang perlu Anda pahami dengan banyak mempelajari literatur dan membuka diri terhadap informasi.

4. Hindari memberikan desain gratis

Sebagai penyedia jasa, sebaiknya Anda tidak memberikan jasa Anda dengan gratis. Suatu rancangan yang diberikan secara gratis tentu sangat merugikan arsitek itu sendiri. Kadang tuntutan jasa rancangan gratis sulit dihindari, terutama di daerah-daerah yang masyarakatnya belum memahami mengenai pekerjaan arsitek. Untuk mengatasi hal ini, seorang arsitek harus dengan sabar memberikan edukasi kepada klien mengenai bagaimana arsitek bekerja. Sangat penting bagi arsitek untuk dapat menyampaikan kepada klien mengenai keuntungan apa yang dapat diperoleh klien ketika merekrut seorang arsitek dalam proyek. Penyampaian seperti ini dapat sekaligus mengedukasi klien, sehingga klien lebih yakin untuk menggunakan jasa arsitek untuk proyeknya.

Adapun hal yang dapat Anda berikan secara gratis sebagai arsitek adalah nasihat perancangan. Dengan membagikan sedikit nasihat bagi permasalahan yang dihadapi klien di lapangan, klien dapat melihat kemampuan Anda dalam merespons permasalahan dalam proyek. Setelah memberikan nasihat perancangan kepada seorang calon klien, Anda bisa saja mengajukan proposal jasa Anda dalam merancang proyek tersebut. Arsitek harus selalu menunjukkan sikap proaktif dan bangga dengan apa ia kerjakan. Sikap ini akan memberikan impresi yang baik bagi klien terhadap praktik arsitektur yang Anda kerjakan.

5. Ikuti kegiatan sosial nonprofit

Proyek pro bono —pekerjaan profesional yang dilakukan secara sukarela tanpa menuntut imbalan— akan memberikan Anda pengalaman mengerjakan proyek di luar model proyek yang biasa Anda lakukan. Mengerjakan proyek membangun panti asuhan atau bekerja dalam organisasi nonprofit dapat menjadi kesempatan untuk memberikan sumbangan ilmu yang Anda miliki. Selain itu, proyek seperti ini menunjukkan kemauan Anda melakukan kebaikan dalam praktik Anda dan tidak melulu berorientasi pada perolehan profit. Keseriusan Anda dalam mengerjakan proyek sukarela dapat memberikan keyakinan bagi calon klien akan totalitas Anda bekerja pada proyek sesungguhnya.

Masih banyak lagi strategi marketing yang dapat diterapkan seorang arsitek dalam biro arsitektur yang ia miliki. Setiap biro memiliki preferensi tersendiri mengenai bagaimana mereka menjual dan merepresentasikan biro mereka kepada calon klien. Strategi yang berbeda-beda dapat ditujukan kepada sasaran klien atau proyek yang spesifik. Seorang arsitek harus memiliki kesadaran untuk belajar mengenai strategi marketing supaya praktik yang ia lakukan dapat terus berkembang dan berkelanjutan.

Penulis: Catharina Kartika Utami

Sumber Tulisan : http://blog.bluprin.com/

3 months ago