Menengok Sejarah & Arsitek Gedung Asuransi Jiwa OLVEH di Kota Tua

Kawasan Kota Tua Jakarta Barat tak habis mempertontonkan kokohnya gedung-gedung peninggalan Kolonial Belanda. Tak hanya Staadhuis yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (BEOS) yang kini dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota, di seberangnya sebuah bangunan bekas perusahaan asuransi jiwa Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (OLVEH) ternyata menghantarkan kita ke nuansa khas tahun 1921.

20160323105620-1-gedung-ovleh-di-jakarta-kota-002-nfi

Gedung OLVEH di Jakarta Kota KITLV

Perusahaan OLVEH sendiri masuk ke Indonesia ketika pemerintah Belanda membuka keran bagi asuransi swasta asing untuk berekspansi di Hindia yang kala itu dimonopoli oleh Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij van 1859 (NILLMIJ). Namun pemerintah Belanda berhenti membantu NILLMIJ mengumpulkan premi pada tahun pada tahun 1883.

OLVEH van 1879, adalah sebuah perusahan Belanda dengan kantor induknya berada di sGravenhage, Leiden mampu bertahan hingga 40 tahun dan berakhir ketika dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia tahun 1960. Direktur OLVEH di Batavia saat itu Pieter Peereboom Voller seorang warga Belanda kelahiran Batavia 1873.

20160323105620-2-gedung-ovleh-di-jakarta-kota-001-nfi

“Perusahaan asuransi jiwa OLVEH adalah perusahaan swasta Belanda, yang di Batavia merupakan cabang pertamanya,” ujar Arkeolog merangkap juga Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta, Candrian Attahiyat kepada merdeka.com, Selasa (22/3) kemarin.

Balutan cat putih tidak hanya dirasakan tampak depan gedung, tapi juga ketika memasuki setiap ruangan di dalamnya yakni berupa kombinasi marmer putih serta detail interior gedung dan juga kaca patri. Berdiri di Jalan Jembatan Batu No 50, Pinangsia (dulu Vorrij Zuid) gedung ini termasuk berada di kawasan Voorstad yakni berada di luar kota inti Batavia bagian selatan yang dirancang oleh VOC untuk lokasi bisnis dan pemukiman masyarakat Tionghoa.

“Kalau dilihat dari depan kita bisa melihat BEOS (Stasiun Jakarta Kota), kalau dari balkon belakang dari gedung ini kita bisa lihat kelenteng Setia Dharma Marga. Dulunya tahun 1921 banyak rumah Tionghoa, sehingga dibuat balkon di belakang gedung agar view jadi bagus,” terang Candrian.

Gedung yang memiliki dua menara pada atapnya ini dirancang oleh arsitek masyur R. Schoemaker dengan pelaksana pembangunannya oleh F.Loth pada tahun 1921. Satu tahun kemudian gedung ini mulai dioperasikan oleh OLVEH tepatnya pada 7 Januari 1922. Pertunjukan ondel-ondel menjadi pembuka acara peresmian tersebut.

“Sebenarnya data itu (arsitek) masih membingungkan Charles Prosper Wolf Schoemaker atau adiknya Richard Leonard Arnold Schoemaker, jadi kita menggunakan nama firmanya saja yakni C.P Schoemaker En Associatie karena itu yang ditemukan oleh Tim. Tapi kalau dilihat dari gaya bangunan ini khas kakaknya,” kata Candrian.

20160323105620-3-gedung-ovleh-di-jakarta-kota-002-nfi

Gedung OLVEH di Jakarta Kota Indische Lieraire Wabdelingen

Dengan gaya art deco gedung ini lebih banyak menggunakan ciri kubisme yang sering digunakan sejak tahun 1905. Ukiran kotak lebih ditonjolkan pada bangunan ini namun ada yang unik, arsiteknya menambahkan dua kubah besar di atas gedung. “Ini unik, kubahnya digunakan sebagai pemanis. Tidak ada pemanfaatan khusus sebenarnya,” kata Candrian.

Berdiri tiga lantai, perusahaan OLVEH ternyata hanya menggunakan lantai paling atas gedung. Lantai-lantai dibawahnya disewakan kepada perusahaan lain untuk menghemat biaya pengeluaran karena biaya operasional gedung yang cukup mahal.

20160323105621-4-gedung-ovleh-di-jakarta-kota-002-nfi

Gedung OLVEH di Jakarta Kota KITLV

“Dari temuan kita, OLVEH hanya menggunakan lantai tiga paling atas. Dibawahnya disewakan. Namun kita sendiri belum bisa menapaki siapa yang pernah menyewa tempat tersebut,” papar Candrian.

Ditulisa Oleh. Etika Widya Kusumadewi

Sumber Tulisan : http://www.merdeka.com

March 29, 2016