Bandung sebagai Technopolis yang Demokratis

Menyikapi diskusi pada tanggal 23 Februari 2016 di Forum Asia-Afrika mengenai “Ruang Inovasi” yang disebut Technopolis, maka sebuah langkah kritis harus diambil. Selama ini kita dijejali dengan istilah yang kurang jelas, yang jelasnya adalah ‘mencaplok’ dari istilah asing. Inovasi dan Technopolis adalah salah satu dari kategori ini.Tulisan ini akan membahas mengenai pendapat komunitas Start-up yang kritis dan banyak memberikan pilihan yang nampak solutif bagi kebutuhan Technopolis Kota Bandung.

Membedah jargon inovasi

Inovasi adalah jargon yang umum dibicarakan mengenai kebaruan. Baru dalam hal apa? Mengapa membutuhkan sesuatu yang baru? Apanya sih yang baru? Butuh sesuatu yang ‘baru’ karena yang lama sudah tidak memadai untuk menghadapi masalah. Hal yang baru ini, sederhananya dapat dikatakan, adalah pengetahuan baru mengenai sesuatu atau cara untuk menghadapi masalah. Sebuah cara yang baru dikenal atau cara yang sebelumnya sudah ada, tetapi kemudian dilihat kembali dengan nilai-nilai yang sudah berubah, sehingga memiliki ‘kebaruan’. Hanya saja pertanyaan yang baru muncul, siapa yang membutuhkan kebaruan ini?

Tentunya jawaban tersebut sederhana, orang-orang yang membutuhkan perubahan akan membutuhkan kebaruan ini. Perubahan dapat diartikan sebagai hal yang menurut orang-orang ini positif. Tentunya jika pengetahuan yang baru ini akan bermanfaat bagi orang banyak, maka diperlukan adanya cara untuk membuat orang lain mengerti akan manfaat pengetahuan ini, konsep “Transfer Pengetahuan” menjadi bagian dari inovasi. Lalu jika objek yang kita bicarakan adalah pengetahuan, bagaimana hal ini dapat dipahami oleh orang lain? Jawaban paling sederhana adalah belajar. Inovasi dapat dipahami juga sebagai proses pembelajaran, di mana orang-orang yang mengerti mengenai manfaat suatu pengetahuan dan berusaha membuat orang lain memahami dan memiliki apresiasi yang sama terhadap pengetahuan tersebut.

Inovasi dan Komunitas Start-up

Diskusi mengenai Bandung Technopolis ini diwarnai oleh pendapat komunitas Start-up yang banyak mengkritisi keberadaan Technopolis yang bukan Technopolis. Komunitas Start-up ini berisi orang-orang yang memiliki pemahaman mengenai perubahan nilai, serta cara untuk membuat orang lain mengapresiasi perubahan nilai dan dampak nya bagi penganut nilai tersebut. Berdasar hal tersebut, komunitas Start-up menjadi elemen penting dalam diskusi kali ini.

Poinpertama yang perlu disoroti adalah para pelaku start-up ini memahami konsep Triple Helix, sebuah konsep yang mengawali gagasan Technopark atau Technopolis. Banyak orang yang berbicara sebagai perwakilan komunitas ini menyangsikan Bandung Technopolis (BTP) ini akan berguna atau bermanfaat untuk mereka. Terutama karena inisiatif ini digagas oleh pemerintah dan ada pendapat bahwa selama orang-orang dalam komunitas start-up ini berbisnis, kontak mereka dengan pemerintah sangat minimal. Oleh karena itu, kritik yang muncul adalah: mengapa tidak menggerakan sumber daya manusia di Kota Bandung yang tidak pernah disentuh pemerintah? Alih-alih mengedepankan pembenahan ruang kota yang jadinya sepuluh atau lima belas tahun lagi, ada yang berpendapat menggerakan dan memberikan capaian-capaian yang pasti bagi sumber daya manusia di Bandung akan lebih produktif, cepat dan nyata hasilnya.

Kedua, komunitas Start-up di Bandung ini cenderung sporadis, tetapi memiliki keterhubungan erat antara satu dan lainnya. Melalui dasar ini, kritik selanjunya muncul: mengapa tidak memperkuat basis-basis komunitas yang tersebar di Bandung ini? Nampaknya, mengembangkan wilayah dalam kota dengan konsentrasi pemerintah, pebisnis dan akademisi bukan hal yang baik untuk dilakukan di Bandung. Lebih tepat untuk memperkuat interaksi yang terjadi pada komunitas yang tersebar di seluruh Bandung, agar pengetahuan yang diproduksi lebih mempertimbangkan dan sesuai dengan penggunanya.

Meletakkan Technopolis pada postur yang tepat

Memandang Technopolis sebagai bagian dari ‘pembelajaran’ dan pengembangan gagasan bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu keterlibatan aktif dari pelaku-pelaku sentral yang berkepentingan, sehingga pelaku di pinggiran isu ini memiliki akses pada manfaat yang ada. Harapannya, melalui keterlibatan pelaku-pelaku di pinggiran ini akan ada produksi pengetahuan yang lebih adil dan demokratis. Jika pengetahuan yang diproduksi ini adil dan demokratis, makamanfaatnya akan terasa oleh banyak pihak. Sudahkahkita mempertimbangkan pelaku yang relevan dalam urusan Bandung Technopolis ini? Bagaimana dengan burung Belekok?

Berkaca dari perkembangan Bandung sebagai sebuah ruang kota. Bukankah selama ini memang Bandung sudah dikondisikan untuk meningkatkan interaksi pemerintah, pebisnis dan akademisi? Begitubanyak universitas dan politeknik di Bandung, komunitas Start-up yang kaya, pemerintah yang sekarang sedang berbenah. Semua elemen dari Triple Helix sudah ada di Bandung, lalu apakah dibutuhkan sebidang tanah, yang merupakan ajang persaingan perusahaan besar dan politisi, yang harga sewanya (diperkirakan akan) mahal untuk tempat berkantor atau bertukar gagasan? Karena sejatinya, Bandung itu sendiri adalah sebuah bentuk Technopolis dari sejak lama, hanya kita yang butuh melihatnya dengan cara yang ‘baru’.

Penulis : Andhika Riyadi

Sumber : iplbi.or.id

April 23, 2016