Arsitektur; Gambar yang Mengatakan atau Kata yang Menggambarkan?

download (1)

Beberapa waktu lalu, pernah datang satu pasangan muda, membawa ide tentang konsep ramah lingkungan untuk rumah tangganya. Ada kata hijau, low energy, asri, juga alami. Lalu tiba-tiba, keluar satu material sakti saat ini; bambu, dibarengi gambar-gambar pencarian internet; rumah bambu di Bandung, restoran bambu di Jakarta…

Dari awal kuliah dulu, sudah begitu sering ditanamkan bahwa bahasa arsitektur itu adalah gambar, bahwa dengan satu gambar seribu kata akan terungkapkan. Akibatnya, arsitektur hampir bersamadengan dengan visual. Jadi asahlah kemampuan presentasi gambar daripada bicara lewat tulisan. Walau akhirnya diyakini, ternyata arsitektur itu lebih kepada pengalaman ketimbang pemandangan.

Tapi apa boleh buat, di luar sana media yang menghubungkan ‘arsitektur’ dengan masyarakat masih didominasi dengan sajian visual, misalnya fasad cantik minimalis kontemporer alami. Ketika mengetik suistainable, green, atau apapun yang berbau arsitektur pro-lingkungan, yang keluar adalah dominasi tampilan proyek-poyek bernafas bambu. Salah? Belum tentu.

Tapi, bagaimana diketahui korelasi eksekusi desain dengan konteks proyek hanya dengan foto bangunan yang diarahkan? Bagaimana menceritakan pengalaman sebuah ruang hanya lewat sajian visual yang biasanya malah minim aktivitas manusia? Mampukah gambar perspektif sebuah ruang menjelaskan bagaimana rasanya kenop pintu yang seperti bagian belakang sendok, batu kerikil yang diinjak kaki, atau suara pintu berat yang tertutup di belakang ketika beralih dari ruang gelap ke ruang terang?*

Mungkin karena selama ini penyiaran visual memanjakan otak untuk menerima hal tanpa membaca, sehingga tulisan yang menyertainya hanya dipandang sekilas (atau malah tidak ada?). Seberapa sering, arsitektur bicara masalah konteks, pengalaman, nilai, dengan bahasa umum pada media yang ditujukan pada masyarakat luas? Seberapa banyak, unggahan hasil-berfikir-berupa-desain yang hanya berupa gambar tanpa penjabaran yang menjelaskan? Bahkan masih bisa diingat ketika masa tugas akhir di kampus dulu, banyaknya keluhan betapa sulitnya menulis skripsi daripada menggambar desain, juga pandangan kepada jalur riset yang dianggap cukup less architect.

I did contribute to this mess.

Sehingga terlihat sangat wajar ketika mereka yang di luar pendidikan arsitektur melihat arsitektur dari yang terlihat; bentuk, warna, material, tekstur, tampilan. Sehingga keterampilan visual lah yang banyak menjadi requirement kantor-kantor konsultan dalam menerima arsitek. Sehingga tipu-tipu visual dengan berbagai label lah yang menjadi daya jual arsitektur.

Lalu kapan kita bisa berbincang tentang ruang dengan mereka yang lebih peduli dengan kendi? Atau mungkin ditambahi, tentang makna apa yang ada di balik kendi yang kita olah?

Biar orang mengerti, bahwa bambu diminati sebagai kayu masa depan karena keberadaannya lebih mendominasi dibandingkan kayu hutan di sebagian tempat di dunia. Karena, ah ya, permintaan rumah bambu tadi berlokasi di satu pulau yang populasi bambu malah kalah jauh dibanding kayu hutan.

*Peter Zumthor, Thinking Architecture

Penulis : S. A. Rosada

 

4 years ago